Minggu, 30 Maret 2014

Bencana Asap di Riau Renggut 3 Korban Tewas




(foto: Antara) PEKANBARU- Peristiwa kebakaran lahan dan hutan serta polusi asap yang terjadi dalam dua bulan terakhir di Provinsi Riau telah merenggut tiga korban meninggal dunia.
Data Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau menyebutkan satu korban meninggal pertama merupakan warga Kabupaten Pelalawan. Dia meninggal dunia setelah penyakit asma yang dideritanya semakin parah akibat cemaran kabut asap yang melanda daerah tersebut. Korban meninggal kedua adalah Muhammad Adli (63), warga Desa Sungai Gayung Kiri, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti. "Korban mengalami luka bakar di punggung, diduga akibat terjatuh di lahan gambut yang terbakar," kata Kapolres Kepulauan Meranti, Ajun Komisaris Besar Zahwani Pandra Arsyad. Menurut informasi kepolisian, jasad korban pertama kali ditemukan seorang warga yang juga merupakan
Bendahara Desa Sungai Gayung, Rauwil Lisan (26). Saksi mengatakan korban tertelungkup di pinggir jalan lintas Kampung Tengah dekat Desa Sungai Gayung Kiri, Kecamatan Rangsang, Sabtu 8 Maret siang. Kawasan tempat ditemukannya korban ketika itu tengah mengalami kebakaran lahan yang luas, bahkan hingga menghanguskan lahan gambut di sekitar jasad. Sementara korban terakhir yakni seorang karyawan PT Surya Dumai Agrindo (SDA) yang meninggal dunia saat memadamkan kebakaran lahan di Kabupaten Bengkalis,Riau.
            "Korban meninggal bernama Muslim, karyawan pemadam kebakaran yang bekerja saat mencoba padamkan api agar tidak merambat masuk ke kebun," kata Humas PT SDA, Alfian. Alfian mengatakan korban yang berusia 30 tahun itu meninggal dunia pada Sabtu malam (15/3). Saat itu, kata dia, korban bersama regu pemadam kebakaran mencoba memadamkan kebakaran lahan milik warga yang di wilayah perkebunan Afdeling I, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Muslim tewas akibat tertimpa batang kayu dari pohon yang diduga akarnya sudah terbakar. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif sebelumnya mengatakan Kementerian Sosial akan memberikan santunan kepada warga meninggal dunia akibat polusi asap dan kebakaran lahan di Riau. Begitu juga dengan puluhan ribu penderita penyakit akibat polusi asap, Syamsul Maaif menyatakan mereka akan mendapatkan pengobatan secara gratis.
Darurat Asap Riau Diperpanjang Setengah Bulan   
Pengendara melintas di kawasan yang diselimuti kabut asap pekat di Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau.
            Pekanbaru - Pemerintah Riau memperpanjang status darurat asap hingga 14 hari ke depan. Sebelumnya, status darurat ditetapkan 26 Februari-12 Maret 2014. Namun kebakaran hutan dan lahan di Riau masih terus meluas. "Di beberapa kabupaten masih dalam kondisi darurat," kata Asisten I Pemerintah Provinsi Riau Abdul Latif di Posko Penanggulangan Asap Pangkalan Udara Roemin Nurjadin, Pekanbaru, Selasa, 11 Maret 2014. (Baca: Di Riau, Sudah 10 Ribu Hektare Lahan Terbakar)
Dalam dua pekan ke depan, pemadaman bakal terus ditingkatkan dengan penambahan petugas pemadam melalui jalur darat. Selain itu, mereka meminta bantuan tambahan pesawat water bombing dan modifikasi cuaca. "Semua permintaan bantuan sudah kami ajukan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana," katanya. Komandan Satgas Penanggulangan Bencana Asap Birgadir Jenderal Agus Irianto mengaku tim pemadam masih kewalahan memadamkan api di wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, Bengkalis, serta wilayah Bukit Sembilan. "Saat ini tengah difokuskan pemadaman dengan water bombing," ujarnya. Sejak perintah tanggap darurat dua pekan lalu, tim pemadam api berhasil memadamkan 11.884 hektare lahan terbakar. Saat ini tersisa 22 titik api di sejumlah wilayah. Titik api masih mengeluarkan asap tebal seluas 1.309 hektare dan asap tipis 1.700 hektare. Sedangkan jumlah total lahan terbakar secara keseluruhan mencapai 14.893 hektare, (Baca: SBY: Hukum Para Pembakar Hutan ).

http://wscdn.bbc.co.uk/worldservice/assets/images/2014/03/13/140313083446_kabut_asap_riau_624x351_afp.jpg 
Kabut asap di wilayah Riau dan sekitarnya membahayakan kesehatan warganya.
Kabut asap di wilayah Riau telah menyebabkan sedikitnya 49.000 orang menderita iritasi pernapasan di Pekanbaru dan sekitarnya, sehingga seorang dokter merekomendasikan agar warga yang beresiko untuk dievakuasi. "Idealnya harus dievakuasi, terutama masyarakat yang beresiko terutama anak-anak, bayi, ibu hamil dan manusia lanjut usia," kata Dokter Azizman Saad, dokter spesialis paru di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Riau, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (13/03) siang.
Menurutnya, evakuasi ini mendesak dilakukan karena kualitas udara di wilayah Riau dan sekitarnya sudah masuk kategori "membahayakan Karena fatal akibatnya. Udara bersih (di Pekanbaru dan sekitarnya) tidak ada lagi," kata Azisman. Dia mengatakan, gejala umum yang terlihat dari warga yang mengalami iritasi pernapasan yaitu berupa batuk-batuk, pilek, sesak napas hingga sakit kepala. "Kalau dibiarkan, ini mengkhawatirkan sekali. Bisa tambah parah sakitnya, radang paru dan juga bisa keracunan oksigen," jelasnya. "Idealnya harus dievakuasi, terutama masyarakat yang beresiko terutama anak-anak, bayi, ibu hamil dan manusia lanjut usia."
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Kamis (13/03) mengatakan, kondisi kualitas udara di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya "sudah pada level berbahaya."  Data BNPB juga menyebutkan, sebanyak 49.591 orang di wilayah Riau menderita penyakit akibat asap seperti ispa, pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Pekan lalu, Dinas Kesehatan Riau melaporkan, ada peningkatan angka korban yang mengalami iritasi pernapasan dan gangguan lainnya akibat kabut asap dalam beberapa pekan terakhir, terutama di Pekanbaru. Peningkatan angka korban Menurut BNPB, dampak pembakaran lahan dan hutan di wilayah Riau makin meluas. "Hampir keseluruhan wilayah di Riau dan Sumatera Barat tertutup kabut oleh kabut asap," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan persnya.
http://wscdn.bbc.co.uk/worldservice/assets/images/2014/03/13/140313083702_kabut_asap_riau_624x351_afp.jpg 
BNPB menyebutkan, dampak pembakaran hutan dan lahan terus meluas.
Menurutnya, arah angin yang dominan dari timur laut ke barat daya, membawa asap menyebabkan asap meluas. Sejauh ini, menurutnya, ada 46 titik api yang terpantau satelit NOAA18 serta ada 137 titik api dari satelit Modis ada 137 titik di wilayah Riau. "Titik api ini lebih rendah dibandingkan dengan data sehari sebelumnya," ungkapnya. Terkait upaya penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan, menurut BNPB, mereka telah menurunkan 582 personil polisi dan otoritas terkait. Menurut BNPB, untuk mengatasi bencana asap di Riau, Jumat pagi (14/3) besok, akan dikerahkan pesawat Hercules C-130 untuk melakukan "modifikasi cuaca".
Opini:
  Seharusnya dalam hal ini peran kesadaran warga hal yang terpenting untuk menjaga ekosistem baik itu darat,laut maupun udara mengingat bahwa negara kita banyak rakyat yang jauh dari rasa keperdulian terhadap ekosistem di wilayah negara kita, peristiwa ini tepatnya adalah kebakaran hutan sungguh ironis terhadap kegiatan aktifitas di wilayah tersebut, baik itu aktifitas kegiatan belajar mengajar dan sampai aktifitas perkantoran, Peristiwa ini sangat buruk apabila berkepanjangan. Adapun aktifitas udara mengalami gangguan terhadap asaap dari kebakaran hutan tersebut Selain itu juga akan dioperasikan enam unit ground based generator sistem sprayer di bandara SSK II Pekanbaru untuk mengurangi kepekatan asap sehingga jarak pandang di bandara diharapkan dapat lebih baik dan penerbangan dapat dilakukan. Lantas solusi yang harus di capai untuk menemukan titik aman yaitu dengan warga harus mampu berpartisipasi dengan lingkungan tersebut.

Refrensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar